Suatu Hari di Bulan Juni - Special Episode 2

 Sejak hari itu, gue selalu ketemu dia, entah itu di halte atau di dalam bus. Duduknya agak random sih dia, kadang di tengah kadang di belakang, tapi dia nggak pernah ambil bagian depan. Gaya berpakaiannya sederhana dengan warna-warna hangat dan selalu senada. Dia selalu menenteng tas tote bag, tapi beda-beda warnanya. Kadang hitam, kadang abu-abu, kadang putih. Dia nggak pernah main hape di dalam bus. Seringnya liat ke luar jendela atau nggak liatin orang-orang di dalam bus.

Pernah satu kali mata kami bertemu dan gue langsung membuang muka.

Jantung gue mau copot rasanya.

Sejauh ini gue belum pernah denger suaranya sih—selain waktu dia ucapin makasih dengan suara yang hampir nggak bisa didenger—sampai akhirnya bus yang kami tumpangi ngerem mendadak dan sebuah hand cream menggelinding ke dekat kaki gue.

Mati gue.

“Emm itu … maaf, boleh tolong ambilin hand cream yang deket kaki … Kakak, nggak?”

Suaranya lembut banget, gais.

Gue menunduk, lalu mengambil hand cream tersebut dengan tangan yang mulai dingin karena grogi. “Ini?” Gue menoleh ke belakang dan menyodorkan hand cream itu padanya.

“Iya, ma-makasih, ya,” ucapnya setelah menerima hand cream itu. Abis itu, gue kembali menghadap ke depan.

Lengang selama beberapa detik.

Ayo dong, masa cuma gitu aja? Kesempatan, nih.

Otak gue mulai bekerja keras untuk meneruskan obrolan ini dan ujung-ujungnya yang keluar cuma, “Oh ya, boleh tau nggak itu beli di mana?”

“Ha?”

Okelah, not bad sebenernya, tapi biasanya gue bisa lebih baik dari ini.

“Itu, hand cream-nya.”

“O-oh, ini … di olshop, sih.”

“Murah nggak?”

Yah keluar kan gobloknya. Ngapain coba tanya murah apa kagak, gila.

“Y-ya?”

“Oh itu … temen gue … kebetulan ada yang mau beli itu juga. Persis sama kayak punya lo.”

Yah, keluar kan saltingnya.

“Ohh, ahahaha.” Kalo didenger dari tawanya sih nih cewek pengen cepet-cepet kabur. Gue yang nggak tau lagi mau ngapain cuma bisa ikutan cengar-cengir. “Pokoknya … cari aja di olshop, ntar … pasti ketemu, kok.”

“Ohh … oke, oke. Makasih.” Gue tersenyum, lalu kembali menghadap ke depan dan merutuki diri sendiri berulang kali.

Kenapa kagak sekalian gue tanya namanya coba?

***

Malam harinya, badan gue mulai kerasa nggak enak.

Pagi harinya, gue demam sampai nggak bisa masuk kerja.

Beberapa hari kemudian, gue resmi di-opname karena kena penyakitnya anak Jakarta yang suka kerja lembur bagai kuda alias tipes. Gue dirawat di rumah sakit selama satu minggu dan istirahat di rumah selama tiga hari. Selama itu juga, beberapa temen kantor datang jenguk gue dengan membawa bunga, buah, dan makanan yang buat gue merasa kayak emak-emak baru lahiran. Tiga hari terakhir lumayan enak, sih, karena gue kayak nyantai di rumah, tapi nggak enaknya, gue nggak bisa ketemu tuh cewek selama … dua minggu.

Kira-kira dia masih naik bus yang sama nggak ya di hari senin nanti?

Selama dua minggu ini gue terus mikirin cara buat nyari informasi tuh cewek dan satu-satunya yang terpikirkan oleh gue adalah lewat aplikasi Finder.

Ya maksud gue, kalo dia beneran naik bus dari halte Kota, berarti lokasi dia nggak jauh-jauh amat dari gue dan kalo tuh cewek main Finder, harusnya gue bisa ketemu dia di aplikasi ini.

Lucunya, gue nggak yakin sama keduanya.

Jadi yang bisa gue lakukan adalah kembali masuk kerja dengan menaiki bus—walau sebenarnya mobil kakak gue udah kelar diservis—demi bisa kenalan sama tuh cewek. Dan tebak apa yang terjadi?

Gue ketemu profil dia di Finder waktu gue lagi nunggu bus di halte.

Bukan cuma itu aja, ternyata dia juga ada di halte itu dan masih naik bus yang sama dengan gue. Begitu bus kami datang, gue menggeser profilnya ke arah kanan, lalu mengikutinya dari belakang. Saat itu gerimis turun dan gue lihat dia sedang memandang ke arah jendela. Pelan-pelan, gue melangkah ke arah kursinya dan bertanya, “Permisi, kursi samping lo kosong nggak?”

Untuk memastikan, gue bertanya kembali, “Lo … Anggita, kan?”

Ya, namanya Anggita. Begitu mendengar namanya dipanggil, dia menoleh dan menatap gue kaget.

“Gue boleh duduk di samping lo?” Gue menunjuk kursi sebelahnya yang kosong.

“Ah? Iya, iya.” Gadis itu mengangguk, lalu mengambil tasnya dan pindah duduk ke kursi sebelah.

Jantung gue kayak lari marathon sekarang. Gue menormalkan napas gue terlebih dahulu, baru duduk di sebelahnya dan mengulurkan tangan gue sambil tersenyum. “Gue Glen, yang baru aja match sama lo di Finder. Salam kenal.”

Gadis itu tampak terkejut saat melihat gue. Namun, beberapa detik kemudian, ia membalas senyuman gue dan berkata, “Gue … Anggita. Salam kenal juga.”

 

TAMAT

***

Suatu Hari di Bulan Juni merupakan sebuah audio series berjumlah 5 episode yang menceritakan tentang Anggita, seorang editor buku fiksi yang ingin menikah muda. Namun, di umurnya yang ke-23 tahun, ia belum juga menemukan lelaki yang tepat. Suatu hari di bulan Juni, ia bertemu dengan lelaki impiannya di bus Blok M - Kota karena bangun kepagian. Kira-kira, bagaimana usaha Anggita untuk mendapatkan hati laki-laki yang baru ditemuinya itu?

Series SHDBJ kini dapat didengarkan secara gratis di Youtube Alicia Angelina dan Spotify edisirindu.