Sebuah Perjalanan Menuju Tak Sempurna

 

"Ternyata bukan hanya nyaman yang menjadi jebakan, tapi kesempurnaan juga."
Sebenernya dari dulu gue tipe orang yang perfeksionis. Mau semuanya serba sempurna dan serba sesuai dengan apa yang gue mau, termasuk dalam hal tulisan gue. Sampai suatu saat, cerita gue dikritik orang. Jujur gue sebenernya pengen terima dan pengen banget berubah buat jadi lebih baik lagi, tapi nggak tau kenapa alam bawah sadar gue malah terus-terusan bilang ke gue kalau gue ini nggak layak disebut penulis dan gue emang nggak ditakdirkan buat jadi penulis. Gue sempet ngedown parah dan di saat itu gue memutuskan untuk berhenti nulis, sampai akhirnya sosok "Langit" datang dan membuat gue menulis kembali.
Tantangan kemudian datang waktu gue lagi menulis cerita February (bisa dibaca di wattpad.com/aliciangelina), karena kata-kata itu kembali menghantui gue dan kadang buat gue mau berhenti aja karena nggak sanggup. Kenapa? Karena gue berusaha untuk menjadi sesempurna mungkin. Gue berusaha untuk menghasilkan sebuah karya tanpa cela supaya nggak dikritik lagi. Baru aja selesai ngetik satu bab, langsung revisi karena dikira belum cukup bagus. Ya kalo gitu kapan selesainya? Kapan bisa puasnya? Manusia itu emang nggak pernah puas. Dan hasilnya apa? Gagal total. Gue malah jadi makin ngedown karena sampai kapanpun gue nggak akan mencapai titik sempurna yang gue mau. 
Ya karena emang nggak bisa. Nggak ada manusia yang bisa menciptakan suatu karya yang sempurna karena kita sendiri juga nggak sempurna.
Jadi, yang namanya nggak sempurna tuh nggak pa-pa. Jangan memaksakan diri, karena setiap orang punya persepsinya masing-masing. Ada yang bilang bagus, ada yang bilang kurang. Ingat, kita nggak bisa memenuhi tuntutan setiap orang. Yang terpenting, jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri. Yang secukupnya. Yang sewajarnya.

Popular Posts