Pensiun
Belakangan ini aku cukup banyak menulis.
Menulis di blog, menulis review di postingan Instagram tentang buku yang baru saja aku baca, menulis kalimat-kalimat pendek di akun tulisanku, menulis di story Instagram, dan di buku catatan harian. Mungkin aku tidak menulis sebanyak dulu, tapi setidaknya, aku masih bisa menulis.
Aku mulai menulis saat umurku 10 tahun. Bukan baru belajar, maksudku, kau tahu, melainkan merangkai sebuah cerita. Sejak kecil, aku sangat menyukai cerita-cerita fantasi, seperti putri-putri kerajaan, peri-perian, putri duyung, atau petualangan. Aku mempunyai banyak kaset film seperti itu di rumah dan aku bisa memutarnya berulang-ulang kali tanpa merasa bosan. Adik perempuanku yang umurnya berbeda 5 tahun denganku sering kuajak bermain 'imajinasi'. Sesuai dengan namanya, kami hanya butuh imajinasi untuk memainkan permainan ini. Oh, mungkin beberapa barang juga untuk mendukung aksi kami.
Dari film-film yang kami tonton, aku dapat menggabungkannya dan merangkainya menjadi suatu cerita yang baru. Kami memainkan cerita itu bersama-sama. Jika permainan kami itu dijadikan film, mungkin episodenya sudah berpuluh-puluh karena kami memainkannya hampir setiap hari.
Aku lalu mulai suka menggambar. Aku menggambar tokoh utama dari cerita yang kami mainkan beserta pakaian, istananya, bahkan peta negaranya. Awalnya, karena begitu suka menggambar, aku berpikir aku akan menjadi desainer saat besar nanti. Namun, saat aku merasa bahwa gambar bukanlah media yang cukup efektif untuk menuangkan imajinasiku, aku pun beralih kepada tulisan.
Ya, tulisan. Dunia yang aku tinggali sampai saat ini.
Waktu itu aku menulis cerita fantasi di laptop ayahku dengan berbekal imajinasiku saja. Namun, karena tingkat kematanganku yang masih rendah, cerita itu tidak kulanjutkan. Berhenti di tengah-tengah. Dua tahun setelahnya, saat aku berumur 12 tahun atau tepatnya kelas 1 SMP, aku mulai mengenal cinta.
Dan hukumannya.
Siapa sangka, luka akibat patah hati itu memanggil kembali jiwa menulisku yang terpendam lama. Aku memang bukan tipe orang yang dapat dengan mudah mencurahkan perasaanku kepada orang lain, terkhususnya orang yang berkaitan dengan perasaanku itu. Oleh sebab itu, aku menuangkan semuanya ke dalam bentuk tulisan hingga akhirnya satu cerita berhasil diselesaikan.
Cerita patah hati bagian satu, tamat.
Sejak saat itu, setiap kali aku patah hati, sedih, atau terluka, menulis selalu menjadi pelarian. Pernah satu kali, saat ujian tengah semester sedang berlangsung, pengawas ruangan menuduhku memberikan jawaban kepada temanku. Ia lalu mengancam akan memberitahukan hal ini kepada guru mata pelajaran yang bersangkutan dan nilaiku akan dikurangi. Karena tuduhan itu, suasana hatiku jadi buruk. Saat jam pulang tiba, aku buru-buru pulang ke rumah dan membuka aplikasi Wattpad lewat ponsel, lalu melanjutkan ceritaku yang belum selesai. Aku menulis dan terus menulis, tidak peduli ujian lain masih menanti besok.
Aku rindu saat-saat itu.
Perjuanganku ternyata membuahkan hasil. Saat aku duduk di kelas 9, tiga penerbit yang cukup terkenal menawarkan ceritaku untuk diterbitkan. Rasanya seperti mimpi. Ah, tidak. Mungkin mukjizat. Aku tidak pernah menyangka hari seperti hari itu akan terjadi. Aku lalu memilih salah satu penerbit, dan karya pertamaku diterbitkan. Pre-order mulai dilaksanakan, berikut sesi tanda tangan, meet and greet, school visit, cetakan kedua, patah hati lagi, menulis lagi, diterbitkan lagi ... begitu terus sampai buku ketigaku terbit.
Aku menyangka bahwa siklus tersebut akan terus berulang selamanya, tapi ternyata aku salah. Karena ketika satu rantai terputus, maka rantai-rantai berikutnya akan menyusul.
Kenapa tak pernah terpikirkan olehku, bahwa suatu saat aku akan mengalami patah hati yang bahkan tak bisa aku ceritakan lewat kata-kata, lewat tulisan? Kenapa tidak terpikirkan olehku, bahwa suatu saat aku mungkin tak akan jatuh cinta lagi? Dan jika semua itu terjadi, apakah aku akan tetap menulis?
Nyatanya tidak.
Aku berhenti.
Kemudian dilupakan.
Kau tahu, orang-orang pernah berkata bahwa jika kita tidak menghargai bakat yang telah Tuhan beri, maka Ia akan mengambil lagi hal tersebut dari diri kita. Aku rasa, itu hampir terjadi padaku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Mendadak aku lupa cara memulai suatu cerita. Mendadak aku lupa cara merangkai kalimat demi kalimat. Bersamaan dengan itu, komentar-komentar maupun kritik pedas mulai menghujani karya-karyaku. Aku pun mulai berpikir; apakah aku benar-benar ditakdirkan untuk menjadi penulis? Apakah menulis benar-benar merupakan jalan hidupku? Apakah aku benar-benar berbakat dalam bidang ini? Sejauh ini, aku belum dapat menemukan jawabannya.
Aku mulai khawatir terhadap tulisanku. Kepercayaan diriku perlahan-lahan hilang. Tulisan-tulisan yang sudah aku publish satu per satu aku turunkan lagi hanya karena aku merasa semua itu masih kurang sempurna. Aku takut. Takut jika ada orang lain yang mencelaku lagi. Takut kalau ada orang lain yang menjatuhkan karyaku lagi. Aku tahu ini salah, tapi perasaan-perasaan itu terus bermunculan hingga menghalangiku untuk menulis. Begitu banyak keraguan tertumpuk di atas jemariku. Aku jadi selalu membaca ulang tiap kalimat yang baru kutulis. Aku jadi selalu mengoreksi ulang paragraf yang baru saja kubaca.
Rasanya, menulis bukan lagi menjadi jalan keluar, melainkan jalan buntu.
Apalagi ketika ada anggota keluarga atau temanku yang bertanya kapan aku akan mengeluarkan buku baru. Rasanya, beban di pundakku bertambah satu. Kadang, aku ingin mereka tahu bahwa aku tidak sehebat itu. Aku ingin mereka tahu bahwa aku bukanlah penulis yang baik. Aku sering menggantungkan ceritaku di tengah-tengah hanya karena persiapan yang belum matang. Aku sering mengganti karakter tokoh di pertengahan jalan karena karakter awal yang aku buat kurang sesuai. Aku penulis yang jelek. Aku bukan penulis seperti yang mereka harapkan.
Kadang kala, aku ingin berhenti menulis. Namun, jika tidak menulis, apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan masuk jurusan film setelah tamat SMA karena ingin berprofesi sebagai penulis skenario. Jadi, jika tidak menulis, aku ini apa?
Rasanya, aku seperti hilang arah. Hilang makna. Hilang diri.
Sampai akhirnya, aku ingat bahwa Tuhan pernah membukakan jalan lain untukku. Aku pernah dua kali memenangkan lomba puisi tingkat kota dan satu kali tingkat provinsi. Ah, benar juga. Menulis tidak selamanya tentang cerita, karena menulis yang sebenarnya adalah tentang makna dan rasa. Karena teringat akan hal itu, aku pun berkata kepada diriku sendiri, "Lis, nggak jadi penulis juga nggak pa-pa. Nggak bikin cerita juga nggak pa-pa. Nggak sempurna juga nggak pa-pa. Asal nulis."
Maka dari itu, aku memutuskan untuk tetap menulis, namun mengundurkan diri dari gelar penulis. Sebagai gantinya, aku akan terus menulis sampai aku layak untuk menyandang gelar tersebut. Ah, ternyata menjadi penulis itu tanggung jawabnya besar, ya. Bukan hanya sekedar tulisan dan imajinasi, melainkan juga kematangan dan ekspektasi. Tidak harus menjadi sempurna, seperti di postinganku yang lalu, asal cukup.
Aku ingin menulis. Sebebasku. Seinginku. Bukan karena tuntungan orang lain. Bukan karena keinginan orang lain. Bukan juga karena patah hati atau jatuh hati. Aku ingin menulis menjadi tempat pelarianku, seperti dulu.
Tanpa pagar. Tanpa batas.