Suatu Hari di Bulan Juni - Special Episode 1

 Nama gue Glen Tanuwijaya, umur 24 tahun, dan bego soal cewek.

          Ya maklum, soalnya gue baru glow-up waktu mau tamat SMA. Sebelumnya? Nggak burik-burik amat sih, cuma nggak pernah dapet surat cinta aja. Pertama kali ditembak cewek itu waktu gue lulus SMA. Tepat di hari kelulusan, dan pelakunya adalah teman sekelas gue.

          Saking bingungnya mau jawab apa, gue cuma cengar-cengir sambil jawab, “Nggak dulu, deh. Makasih.” Persis kayak nolak mbak-mbak yang suka bagiin brosur di jalanan.

          Meskipun begitu, teman gue cukup banyak karena gue bisa dibilang ekstrovert. Gue main sama siapa aja, ramah sama siapa aja, dan temenan sama siapa aja kecuali sama bandar narkoba karena gue nggak mau ikut-ikutan. Waktu masih biasa-biasa aja sih gue dibilang friendly, tapi abis jadi ganteng gue dibilang playboy.

          Jadi orang ganteng itu susah ternyata.

          Apalagi yang ganteng terus ramah kayak gue.

          Banyak cobaannya.

          Alhasil, gue menjomblo sampai sekarang. Suka sama cewek sih pernah, tapi antara ceweknya udah suka sama orang lain atau ceweknya nggak peka-peka karena gue yang baik ke semua orang dan akhirnya dia jadian sama cowok lain.

          Sedih.

          Ya mungkin salah gue juga, sih, nggak berani maju. Gue sempet download Finder biar bisa move on dari tuh cewek, tapi karena nggak bisa dapet yang pas, akhirnya gue hapus lagi tuh app.

          Trus, abis lulus kuliah, gue melamar kerja ke salah satu perusahaan iklan sebagai graphic designer karena gue ambil jurusan DKV waktu kuliah. Biasanya sih gue ke kantor bawa mobilnya kakak cewek gue yang sekarang tinggal di Aussie sama suami dan anaknya, tapi di akhir bulan Juni tahun 2019 ini, mobil kakak gue harus diservis, jadi akhirnya gue naik bus karena kebetulan kantor gue deket sama halte Harmoni dan jarak halte Kota dari rumah gue nggak jauh-jauh amat.

          Ya … itung-itung hemat biaya bensin, lah.

Pemberhentian berikutnya, Harmoni. Periksa kembali barang bawaan Anda dan hati-hati melangkah. Terima kasih.

          Begitu suara dari speaker bus terdengar, gue bangkit berdiri dan berjalan pelan-pelan menuju pintu keluar sambil memegang hand grip biar nggak jatuh. Tepat di samping gue berdiri, ada seorang perempuan yang tertidur lelap di kursinya sambil mendengarkan lagu menggunakan earphone. Kepalanya tersuntuk-suntuk beberapa kali dan membuat gue spontan menahan senyum.

          Lucu juga.

          Baru kali ini gue melihat dia. Entah karena dia baru muncul hari ini atau gue yang nggak sadar sebelumnya. Kalau dilihat dari wajahnya sih harusnya umurnya nggak beda jauh sama gue, tapi tubuh dan wajahnya cukup mungil sehingga ia tampak manis dengan poni tipisnya. Rambut cokelatnya yang sedikit bergelombang diurai hingga mencapai bahu. Pakaiannya sederhana namun senada.

          Kali ini gue benar-benar tersenyum.

          Bus kami baru aja sampai di halte ketika kepala gadis itu tiba-tiba terjatuh ke arah gue dan membuat gue spontan menangkapnya. Gadis itu sontak terbangun dan mendongak ke arah gue.

          “Lo … nggak pa-pa?” tanya gue. Dia mengangguk patah-patah, lalu mengucapkan terima kasih, baru setelah itu gue melangkah keluar bus. Begitu sampai di halte, jantung gue berdegup kencang.

          Gila ya gue?

          Harapan gue cuma satu di sepanjang hari itu: semoga dia nggak sadar kalo gue hampir tergagap waktu ngomong sama dia.

***

          Keesokkan harinya, gue bertemu dengan gadis itu lagi. Bukan di dalam bus, melainkan di halte.

Ternyata dia berangkat dari halte yang sama—halte Kota.

Suatu kebetulan yang nggak disangka-sangka.

Di saat itu, seorang kakek yang berdiri di depannya sedang berselisih paham dengan petugas mengenai kartunya yang nggak bisa di-tap. Petugas halte berkata bahwa saldo kakek itu nggak mencukupi dan harus mengisi ke minimarket terdekat padahal kakek itu sedang buru-buru. Tiba-tiba aja, gadis yang hari ini memakai kemeja berwarna hijau army dan celana putih itu menyodorkan kartu Flazz-nya sambil tersenyum dan berkata, “Nih Kek, pake kartu saya aja dulu.”

Kakek tersebut diam sebentar, ragu-ragu mau mengambil atau enggak.

“Nggak pa-pa, Kek. Saya tap-in, ya.” Gadis itu berkata dengan sopan dan langsung menaruh kartunya ke alat scanner sehingga pintu putar bisa bergerak.

Gue yang melihat kejadian itu dari jauh cuma bisa tersenyum.

Kayaknya, gue mulai suka sama seseorang lagi.

Semoga kali ini dia beneran jodoh gue.

***

Suatu Hari di Bulan Juni merupakan sebuah audio series berjumlah 5 episode yang menceritakan tentang Anggita, seorang editor buku fiksi yang ingin menikah muda. Namun, di umurnya yang ke-23 tahun, ia belum juga menemukan lelaki yang tepat. Suatu hari di bulan Juni, ia bertemu dengan lelaki impiannya di bus Blok M - Kota karena bangun kepagian. Kira-kira, bagaimana usaha Anggita untuk mendapatkan hati laki-laki yang baru ditemuinya itu?

Series SHDBJ kini dapat didengarkan secara gratis di Youtube Alicia Angelina dan Spotify edisirindu.