Masa Kecil

 Saat itu kami sedang berbaring di tempat duduk yang ada di rooftop rumah. Tempat duduk itu terbuat dari kayu dan berbentuk persegi yang cukup luas sehingga tiga atau empat orang bisa berbaring di sana. Kami sama-sama sedang menatap langit senja dengan awan yang berwarna jingga kekuningan ketika tiba-tiba dia bertanya, "Lo ... pernah iri sama orang, nggak, Nad?"

Aku spontan menoleh. "Hm? Lo lagi iri sama orang emangnya?"

"Nggak," jawabnya tanpa menoleh ke arahku. "Cuma mau tau aja, cewek yang punya segalanya kayak lo bisa iri sama orang lain atau enggak."

Aku tertawa pelan. "Ya ... bisa, lah."

"Sama siapa?"

"Hm?" Tawaku perlahan-lahan memudar. Aku kemudian kembali menatap langit. "Sama ... diri gue sendiri. Diri gue waktu kecil."

Meskipun tak melihatnya, aku bisa merasakan Anta menoleh ke arahku.

"Dia ... punya hal-hal yang gue nggak punya sekarang. Dia punya keluarga yang lengkap, dia masih bisa makan malem sama mereka, dan dia masih bisa main sama mereka. Dia ... nggak perlu alasan untuk bahagia. Dia bisa tertawa dan menangis kapanpun dia mau. Dan bagian terbaiknya adalah ... dia belum pernah jatuh cinta," jawabku dengan senyum getir. Kenangan demi kenangan masa kecilku kembali bermunculan dan membuat tenggorokanku sakit menahan tangis. "Lo tau apa yang paling gue takuti sekarang, Ta?"

"Hm? Apa?"

"Menjadi dewasa," jawabku. "Ya gue ... belum siap aja. Karena dari apa yang gue liat ... dunia mereka tuh jauh berbeda dari dunia kita. Terlalu rumit. Masih ada banyak hal yang harus gue pelajari. Kayak ... gimana caranya melamar kerja, gimana caranya mengatur keuangan, dan gimana caranya lo bertahan hidup di dunia yang luas dan gelap banget ini. Coba gue tanya lo, lo tau nggak gimana caranya tau jodoh lo yang mana? Maksud gue tuh kayak, lo tau dari mana kalo dia akan jadi pasangan hidup lo yang tepat? Bingung juga kan?" Gue akhirnya menoleh pada Anta dan melihat cowok itu sedang tersenyum.

"Ya nggak pa-pa sih kalo lo takut. Kita semua juga gitu, kan? Takut sama yang namanya hari esok karena kita nggak tau apa yang akan terjadi ke depannya. Kita bahkan nggak tau besok kita masih hidup atau enggak. Rasanya semuanya gelap. Tapi ya selama kita punya penerangan yang cukup, kita harusnya nggak usah takut lagi sama apa yang ada di depan. Pertanyaannya sekarang adalah, lo udah punya terang itu belom?" jelas Anta panjang lebar dan membuatku menatapnya lama.

"Maksud lo ...." Keningku berkerut.

"Berserah aja, Nad. Cuma itu yang bisa kita lakuin. Lo mungkin takut masa depan lo nggak akan seindah masa lalu lo, tapi itu nggak boleh buat lo stuck di masa lalu lo. Oke?" Anta tersenyum dan membuat senyumku pun perlahan-lahan mengembang.

"Iya, Ta. Makasih."